Semester lalu waktu ngerjain uas basdat enterprise kebetulan saya ngambil topik kualitas informasi dan pengukurannya pada perusahaan Cinox Media Insani (lihat detail perusahaannya di sini). Kebetulan founder2 Cinox ini adik kelas saya di STT Telkom.
Hmm, untuk ngerjain tugas itu saya menggunakan beberapa pendekatan yakni pake analisis value chain, Caldea-Evamecal dan Information Product Map. Nah, salah satu yang saya lakukan adalah memetakan Software version documentation yang dihasilkan dalam pengerjaan setiap proyek Cinox sebagai information product.
Tapi, intinya sih skrg saya bukan membahas tugas itu tapi lebih pada bagaimana mengelola Software version documentation itu sendiri dan kebetulan waktu itu Chief Technical Officer-nya Cinox (thx Ca) ngasih link bagus sebuah blog yg katanya senior kami juga. Pemilik blog tersebut adalah Endy Muhardin dan alamatnya blognya: http://endy.artivisi.com/ buat yang memang sering ngerjain proyek SW atau sekedar pengen tau hal2 lain silakan dicoba…semoga manfaat
Enron adalah perusahaan di Amerika Serikat yang bergerak di bidang energy. Enron ini memiliki cakupan bisnis di antaranya adalah listrik, gas alam, pulp , kertas, komunikasi dll. Enron ini awalnya merupakan rintisan dari Northern Natural Gas Company yang didirikan tahun 1931 di Omaha, Nebraska[2].
Jatuhnya Bisnis Perusahaan Enron
Enron mengumumkan kebangkrutannya pada akhir tahun 2002. Tentu saja kebangkrutan ini menimbulkan kehebohan yang luar biasa.
Bangkrutnya Enron dianggap bukan lagi semata-mata sebagai sebuah kegagalan bisnis, melainkan sebuah skandal yang multidimensional, yang melibatkan politisi dan pemimpin terkemuka di Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa fakta yang cukup mencengangkan seperti:
-
Dalam waktu sangat singkat perusahaan yang pada tahun 2001 sebelum kebangkrutannya masih membukukan pendapatan US$ 100 miliar, ternyata tiba-tiba melaporkan kebangkrutannya kepada otoritas pasar modal. Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai US$ 50 miliar. Sementara itu, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai Enron harus menangisi amblasnya dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1 miliar.
-
Saham Enron terjun bebas hingga berharga US$ 45 sen. Padahal sebelumnya pada Agustus 2000 masih berharga US$ 90 per lembar. Oleh karenanya banyak pihak yang mengatakan kebangkrutan Enron ini sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis di Amerika Serikat dan menjadi bahan pembicaraan dan ulasan di berbagai media bisnis dan ekonomi terkemuka seperti Majalah Time, Fortune, dan Business Week.
Sebab-sebab Bangkrutnya Enron
Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar [1]. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dengan trik-trik manipulasi yang tinggi dan tentu saja orang-orang ini merupakan orang bayaran dari mulai analis keuangan, para penasihat hukum, dan auditornya.
Skandal ini semakin ruwet dengan ditengarainya keterlibatan banyak pejabat tinggi gedung putih dan politisi di Senat Amerika Serikat yang pernah menerima kucuran dana politik dari perusahaan ini.Bahkan tercatat 35 pejabat penting pemerintahan George W. Bush merupakan pemegang saham Enron. Dalam daftar perusahaan penyumbang dana politik, Enron tercatat menempati peringkat ke-36, dan penyumbang peringkat ke-12 dalam penggalangan dana kampanye Bush. Akibat pertalian semacam itu, banyak orang curiga pemerintahan Bush dan para politisi telah dan akan memberikan perlakuan istimewa, baik dalam bisnis Enron selama ini maupun dalam proses penyelamatan perusahaan itu.
Pelajaran di Balik Skandal Enron
Melalui kasus Enron ini dapat ditarik beberapa pelajaran yakni:
-
Kebohongan yang dilakukan pada sebuah sistem terbuka seperti organisasi Enron cepat atau lambat pasti akan terbongkar.
-
Kasus-kasus kejahatan ekonomi tingkat tinggi selalu saja mengorbankan kepentingan orang banyak. Telah terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai profesi seperti akuntan, pengacara dan lain sebagainya, dimana segelintir profesional tersebut serakah dengan memanfaatkan ketidaktahuan dan keawaman banyak orang. Hal ini mengakibatkan bencana yang mencelakakan banyak pihak: ribuan pekerja, pemegang saham, para pemasok, kreditor, dan pihak-pihak lainnya.
-
Terbongkarnya praktek persekongkolan tingkat tinggi ini menjadi bukti bahwa praktek bisnis yang bersih dan transparan akan lebih langgeng (sustainable). Prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance) harus dijaga dan dipelihara. Pengelolaan haruslah dilakukan secara transparan, fair, akuntabel, serta menjaga keseimbangan lingkungan.
REFERENSI
[1] Said , Sudirman, “Belajar dari Skandal Enron”, KORAN TEMPO, 5 February 2002
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/enron
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Enron_scandal
OODA (Observe – Orient – Decide – Act) pertama kali diperkenalkan oleh Kolonel John Boyd (1927 – 1977) yang merupakan seorang pilot pesawat tempur saat terjadinya Perang Dunia II, Perang Korea dan Vietnam. Strategi ini merupakan sebuah strategi perang atau seni berperang sehingga ada yang mengatakan bahwa John Boyd adalah “the next” Sun Tzu. Namun walaupun konsep ini awalnya hanyalah sebuah strategi perang, sama seperti konsep Sun Tzu dengan “The Art of War” -nya , OODA ini juga ternyata banyak diadaptasi ke dalam bidang pemasaran dan bagaimana menghadapi persaingan bisnis karena dianggap sangat relevan dengan kenyataan yang terjadi di dunia bisnis.
O-O-D-A ini digambarkan oleh John Boyd dalam resep empat langkah untuk mencapai kemenangan. Langkah-langkah ini disebut dengan OODA loop. Loop ini adalah siklus keputusan yang berputar secara konstan yang menggambarkan alur pikiran setiap saat ketika menghadapi permasalahan dari hal yang sederhana sampai yang kompleks. Siklus dari loop ini digambarkan sebagai berikut:
Bila dikaitkan dengan “The Art of War” Sun Tzu maka OODA Loop ini merupakan pengaplikasian prinsip-prinsip “The Art of War” [2] sebagai berikut:
1. “If you know others and know yourself, you will not be imperiled in a hundred battles…if you do not know others and do not know yourself, you will be imperiled in every single battle.”
Prinsip ini menjelaskan bagaimana pentingnya memahami system kita sendiri dan musuh kita bagaimana kemampuannya, kebutuhannya, tujuannya dan nilai yang ada.
2. “Unless you know the mountains and forests, the defiles and impasses, and the lay of the marshes and swamps, you cannot maneuver with an armed force.”
Prinsip ini menekankan kebutuhan untu memahami benar lingkungan luar di mana kita dan saingan kita beroperasi. Dalam bisnis, ini lebih dari sekedar kondisi pasar atau lingkungan regulasi. Ini termasuk lingkungan politik dan budaya juga.
3. “I have heard of military operations that were clumsy but swift, but I have never seen one that was skillful and lasted a long time. It is never beneficial to have [an] operation continue for a long time.”
4. “Act after having made assessments. The one who first knows the measures of far and near wins.”
Penekanan disini pada pelaksanaan penilaian. Ini merupakan istilah lain untuk “ sintesakan seluruh informasi menjadi gambaran yang jelas terhadap apa yang sedang terjadi dan di mana kita berada di situasi tersebut, kemudian bertindak.The emphasis here is on making assessments.
5. “Generals who know all possible adaptations to take advantage of the ground know how to use military forces. If generals do not know how to adapt advantageously, even if they know the lay of the land they cannot take advantage of it.”
6. “Adaptation means not clinging to fixed methods, but changing appropriately according to events, acting as is suitable. [Zhang Yu]”
7. “A military force has no constant formation, water has no constant shape: the ability to gain victory by changing and adapting according to the opponent is called genius.”
Ketiga pedoman ini semuanya tentang fleksibilita dan kapabilitas memilih atau mengadaptasi situasi baru secara cepat.
8. “In battle, confrontation is done directly, victory is gained by surprise.”
OODA Loop sendiri terdiri dari 4 elemen, dimana pelaksanaannya haruslah secara berurutan yaitu:
1. Observe
Observasi merupakan langkah pertama dimana pencarian informasi dilakukan. Informasi ini misalnya tentang lingkungan, behavior dan kecenderungan sendiri dan lawan, fisik, mental dan situasi moral
2. Orient
Merupakan sintesis dari berbagai macam kontribuso, termasuk tradisi budaya, pengalaman sebelumya, keturunan genetis dan informasi barus berdasarkan kenyataan tak tentu. Kontribusi ini akan dianalisi dan disintesis menjadi gambaran realitas.
3. Decision
Langkah ini adalah langkah eksplisit yang berarti aktifitas diskrit yang dilakukan secara sadar untuk mengikuti orientasi
4. Act
Merupakan langkah yang diimplementasikan dengan cara berinteraksi dengan lingkungan.
Sederhananya melalui OODA ini John Boyd mengajarkan bahwa kita bisa mengetahui bagaimana cara berpikir musuh, bagaimana seorang pemimpin dan bawahannya berpikir, bagaimana melakukan pelatihan secara lebih efektif dan bagaimana melakukan kendali terhadap lingkungan taktis. Analoginya Jika seorang pemimpin dapat melatih bawahannya untuk meminimalkan waktu reaksi terhadap permasalahan taktis, melatih para pengambil keputusan mengambil keputusan secara tepat baik berdasarkan waktu dan keadaan kemudian mengerti bagaimana pola siklus pengambilan keputusan musuh dan melalui itu mengacaukannya maka perusahaan akan dapat mengambil keuntungan yang besar. Jika saja pimpinan perusahaan diliputi oleh situasi kebimbangan berkepanjangan dan tidak segera bertindak maka dia akan memberikan kesempatan bagi musuh untuk melakukan observasi dan mengambil keuntungan atas situasi tersebut. Jadi faktor waktu menjadi hal yang sangat penting dalam OODA.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Bazin, Aaron A., Boyd’s O-O-D-A Loop And The Infantry Company Commander, Infantry, January-February 2005.
[2] Dettmer,H. William, Operationalizing Sun Tzu: The O-O-D-A Loop, Goal Systems International, 2006
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/OODA_Loop tanggal akses 10 Februari 2008

